Semakin Populisnya Para Politikus Sayap Kanan

Nama-nama tersebut menjadi beken berkat jargon serba anti: anti-imigran, anti-Islam, dan anti-Uni Eropa.

Semakin Populisnya Para Politikus Sayap Kanan
Brexit

MONDAYREVIEW.COM - Konteks sosial politik suatu negara dan dunia sesungguhnya tidak berada dalam satu garis lurus. Sejarah kerap berulang. Apa yang dikecam di era lampau, bisa jadi terulang kembali di masa kini dan masa mendatang.

Ketika dunia diharu biru dengan konsep demokrasi, keterbukaan, persahabatan – namun simaklah betapa nilai-nilai positif tersebut bisa tergerus. Ragam narasi dapat melahirkan munculnya nilai-nilai negatif yang selama ini kita pikir telah menjadi artefak pemikiran dari masa lampau.

Simaklah betapa meningkatnya elektabilitas para politikus sayap kanan di berbagai negara. Marine Le Pen di Prancis, Geert Wilders di Belanda, dan Nigel Farage di Inggris. Nama-nama tersebut menjadi beken berkat jargon serba anti: anti-imigran, anti-Islam, dan anti-Uni Eropa.

Mereka merupakan representasi dari kekhawatiran, paranoid berlipat. Segregasi, isolasi, menjadi pemikiran yang mereka kembangkan. Kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat pun ditengarai menggambarkan bergesernya lanskap warga untuk semakin simpatik dengan para politikus yang mengusung pemikiran sayap kanan.

Akankah pemikiran sayap kanan ini akan berkembang di berbagai negara lainnya? Boleh dibilang hal ini merupakan ujian bagi demokrasi dengan nilai-nilai positifnya.