Kepak Sayap Industri Aviasi

Karena pandemi industri aviasi seperti mati angin. Tak tahu harus melangkah kemana. Beberapa maskapai negeri jiran sudah mengajukan pailit. Salah satunya adalah Thai Airways. Sebelum wabah memang maskapai Negeri Gajah Putih itu sudah bermasalah. Salah satu surga pariwisata Asia itu kini makin terpukul dan menyerah. Ancaman gulung tukar juga mengancam maskapai Indonesia yang jumlah penumpangnya turun drastis tersisa 10% persen saja.

Kepak Sayap Industri Aviasi
Dirut Garuda/ Antara

MONDAYREVIEW.COM – Karena pandemi industri aviasi seperti mati angin. Tak tahu harus melangkah kemana. Beberapa maskapai negeri jiran sudah mengajukan pailit. Salah satunya adalah Thai Airways. Sebelum wabah memang maskapai Negeri Gajah Putih itu sudah bermasalah. Salah satu surga pariwisata Asia itu kini makin terpukul dan menyerah. Ancaman gulung tukar juga mengancam maskapai Indonesia yang jumlah penumpangnya turun drastis tersisa 10% persen saja.

Bangkok Post melaporkan pada 4 Juli 2020 bahwa Thai Airways International (THAI) akan mempercepat rancangan rencana rehabilitasi untuk menyerahkannya ke Pengadilan Kepailitan Pusat pada 17 Agustus 2020. Pengadilan dijadwalkan untuk mulai memeriksa permintaan rehabilitasi maskapai. Langkah-langkah penting tetap dilakukan untuk menyelamatkan industri penerbangan mereka.

Kembali ke Tanah Air. Industri aviasi sangat penting bagi Indonesia. Mobilitas manusia untuk kepentingan bisnis dan sosial begitu bergantung pada penerbangan. Moda transportasi ini cepat sampai ke tujuan dibanding moda trasportasi lainnya. Dan tentu saja semakin terjangkau harganya karena pendapatan masyarakat yang meningkat beberapa tahun terakhir sebelum pandemi. Apalagi Indonesia negara kepulauan yang terpisah oleh perairan.

Mobilitas manusia sangat terbatas saat pandemi ini. Sehingga sektor transportasi sangat berat untuk memikul beban keuangan. Padahal jalan tol telah banyak dibangun dan akan terus dilanjutkan pembangunannya. Bandara, pelabuhan dan terminal juga banyak yang telah dibangun dan diperbaiki. Harapannya semua infrastruktur itu akan memicu pertumbuhan ekonomi. Tetapi apa mau dikata wabah menghantam hampir ke seluruh belahan dunia.  

Keprihatinan atas kondisi dunia penerbangan dirasakan oleh para pemangku kepentingan. Direktur Utama Maskapai Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut sinyal kebangkrutan maskapai nasional akibat pandemi COVID-19 yang sudah dialami lebih dulu oleh maskapai di sejumlah negara. Hal tersebut diungkapkan dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR di Jakarta (7/7/2020).

Penumpang harus merogoh kocek lebih dalam karena syarat tes Covid-19. Sememtara diskon tak mungkin diberikan walaupun penting untuk memperoleh harga murah. Dengan harga tiket sekarang maskapai masih jauh dari cukup untuk menutup biaya yang harus dikeluarkan. Hari ini industri penerbangan benar-benar mengalami pukulan yang sangat besar.  

Salah satu sektor yang erat kaitannya dengan industri penerbangan adalah sektor pariwisata di mana maskapai Garuda sendiri kehilangan penumpang wisatawan mancanegara (wisman) dari sejumlah negara penyumbang terbesar wisman, salah satunya Australia. Australia sudah memberlakukan pelarangan bagi warganya untuk bepergian hingga akhir tahun, termasuk ke Bali.

Jumlah wisman turun drastis akibat pandemi COVID-19 sebesar 87 persen di April 2020 dan semakin anjlok menjadi 90 persen di Mei 2020.

Jika pariwisata ini mulai meningkat di bulan Juli 2020 ini, ada beberapa yang perlu kita perhatikan dalam ‘recovery’ (pemulihan) pariwisata ini. Begitu industri ini pulih, pariwisata akan pulih dengan cepat.

Garuda berfokus pada wisatawan dalam negeri dan mengupayakan agar masyarakat kembali percaya diri untuk melakukan penerbangan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat meskipun berdampak ke pendapatan.

Industri operator penerbangan, fokus memastikan new normal dalam pesawat karena penting meningkatkan ‘confidence’ masyarakat untuk berpergian. ‘Physical distancing’  dari sisi operasi dan pendapatan ini punya pengaruh yang besar.

Upaya kedua yang dilakukan, yakni kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk melakukan promosi. Salah satunya dengan ‘raise teaser’ kembali ke Bali. Para wisatawan lokal diajak untuk berlibur ke destinasi-destinasi dalam negeri.

Dengan berlibur ke destinasi dalam negeri para wisatawan menikmati wisata sekaligus menghidupkan industri penerbangan, kuliner, hotel, dan sektor lain yag terkait baik langsung maupun tidak langsung.

Garuda juga bekerja sama dengan operator bandara, yakni PT Angkasa Pura I an II serta Kementerian BUMN untuk menginisiasi membuat holding aviasi. Di mana AP I dan AP II Garuda Pelita digabungkan jadi satu digabungkan jadi satu mempermudah aksi-aksi peningkatan pariwisata satu pintu. Indonesia dapat mencontoh  Dubai maupun Qatar dengan kerja sama ‘stakeholders’ holding aviasi.

Indonesia harus segara menemukan kepercayaan dirinya kembali untuk menghidupkan dunia aviasi. Juga industri pariwisata dan akomodasi pada umumnya. Gagasan kreatif, kemampuan kerjasama, dan kerja keras menjadi kunci untuk lolos dari ‘lubang jarum’ pandemi.