Open House & Rekonsiliasi Politik

Bahwasanya politik tak melulu harus saling berkonfrontasi dan dimaknai dengan dahi berkerut.

Open House & Rekonsiliasi Politik
Ketupat (wikipedia)

MONDAYREVIEW.COM – Hari Idul Fitri tak hanya berdimensi transendental, melainkan juga melibatkan relasi kemanusiaan. Tak mengherankan tradisi saling berkunjung, open house pun terjadi di negeri ini. Dalam konteks politik, open house pun dapat terlacak sebagai sinyalemen rujuk ataupun “belum termaafkannya” pihak tertentu.

Lazimnya tuan rumah open house merupakan patron, yang memiliki kekuasaan lebih. Maka tak mengherankan jika dari penguasa di tingkat pusat hingga daerah melakukan open house. Di tingkat pusat, tentu ada Presiden Joko Widodo yang tamu open house-nya beragam; dimana yang paling menyita perhatian yakni tamu dari GNPF MUI. Setelah selama ini terkesan berseberangan dan tak kunjung berdialog antara keduanya, maka di hari Lebaran GNPF MUI dan Presiden Jokowi dapat bertukar kata dan pemikiran. Secara simbol, ini tentu pesan di tengah menguatnya isu kriminalisasi ulama serta merupakan upaya untuk menjembatani komunikasi antara sejumlah ulama di Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI dengan RI-1.

Open house juga bermakna untuk membuka akses pertemuan antara rakyat kebanyakan dengan pihak penguasa. Dikarenakan aturan protokoler, pengamanan, dan sebagainya, maka bisa jadi rakyat yang dipimpin dan penguasa belum pernah bertatap muka langsung ataupun berjabat tangan. Maka open house menjadi event pertemuan tersebut.

Dalam event open house misalnya Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menjadi magnet pemberitaan dengan tidak akan menanyakan “kapan menikah” kepada pemuda/i yang sowan. Seperti karakter suka guyon dan hasil analisa media sosial yang diungkap Ridwan Kamil bahwa rakyat Indonesia lebih tertarik pada konten bercanda. Maka di momentum Idul Fitri, Ridwan Kamil mampu menangkap “pertanyaan abadi” kapan menikah menjadi sesuatu yang menarik.

Jika dikenal istilah “no free lunch”, maka open house yang lazimnya tersedia aneka macam hidangan makanan dan minuman pun semoga dapat dimaknai secara positif. Bahwasanya politik tak melulu harus saling berkonfrontasi dan dimaknai dengan dahi berkerut.