Makam Mbah Priok dan Usaha Mendekatkan Diri ke Kalangan Islam
Ahok memandang faktor persoalan dirinya yang dinilai sebagai penoda agamalah yang membuat elektabilitasnya merosot.
MONDAYREVIEW.COM – Penetapan makam Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad atau Mbah Priok sebagai cagar budaya dikritisi oleh sejarawan JJ Rizal. JJ Rizal menilai Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengabaikan rekomendasi dari tim ahli cagar budaya.
Menurut sejarawan Universitas Indonesia ini cerita tentang Mbah Priok tidak benar seperti perannya dalam syiar Islam di Betawi. Rizal memandang penetapan makam Mbah Priok sebagai cagar budaya berdasarkan sumber informasi yang keliru.
Sementara itu dalam diskusi Satu Meja dengan tema ‘Jurus Ahok di Putaran Kedua’ di Kompas TV, Senin (6/3) malam, Ahok mengungkap hasil survei tentang tingkat kepuasan warga Jakarta selama dirinya memerintah. Menurut Ahok, tingkat kepuasan masyarat berada pada kisaran 70-75 persen.
Dalam Pilkada DKI Jakarta putaran pertama pasangan Ahok-Djarot mendapatkan suara 42,99 persen. Ahok memandang faktor persoalan dirinya yang dinilai sebagai penoda agamalah yang membuat elektabilitasnya merosot.
“Memang faktanya faktor itu, kok. Kita enggak bicara program. Coba kalau kita lihat kampanye bagaimana, kan mainnya agama terus,” kata Ahok.
Maka dengan narasi itulah dapat dilihat, bahwa penetapan makam Mbah Priok sebagai cagar budaya merupakan upaya untuk mendekatkan diri ke kalangan Islam. Sekalipun secara kajian sejarah, seperti diungkap JJ Rizal penetapan tersebut tidak tepat, namun dalam konteks politik, persepsi dekat dengan kalangan Islamlah yang dibutuhkan.




