Warisan Kekuasaan
Bahwa kekuasaan adalah kekuatan untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan.
MONDAYREVIEW.COM - Kekuasaan sesungguhnya merupakan amanah. Maka dalam berbagai terminologi waktu, kekuasaan dapat dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam sistem parlementer, kekuasaan dapat dijatuhkan sewaktu-waktu. Contoh kasusnya pernah dialami Indonesia dalam rentang waktu 1950-1959. Sedangkan dalam sistem presidensial, keajekan dan stabilitas pemerintahan lebih dimungkinkan. Indonesia di era reformasi semakin memperkokoh sistem presidensial yang telah dianutnya.
Dalam lanskap dunia, Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama pada Selasa malam (10/1) menyampaikan pidato perpisahan di Chicago. Ini merupakan pidato terakhir Obama sebelum dia menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Donald Trump pada 20 Januari 2017. Dalam pidato perpisahannya, Obama menyinggung ide-ide Trump yang dinilai tak bersesuaian dengan nilai-nilai Amerika. Hal itu antara lain dia mencela sikap diskriminasi terhadap kelompok Muslim Amerika. Obama juga meminta kepada orang-orang muda Amerika Serikat agar memegang teguh dokumen awal berupa perjuangan oleh budak, imigran, dan transmigran.
Kepemimpinan Obama sebagai orang nomor 1 di Amerika Serikat memang telah membuka jembatan kemungkinan yang begitu luas. Dia adalah orang Afro-Amerika pertama yang berhasil menjadi Presiden di negara adikuasa tersebut. Obama juga kukuh dengan nilai-nilai Amerika seperti keterbukaan terhadap kaum imigran, kaum Muslim, dan sebagainya.
Maka ketika Obama telah di detik-detik akhir kekuasaannya, harus diakui warisan kekuasaan darinya adalah sejumlah nilai-nilai positif. Warisan inilah yang membuat berakhirnya masa kekuasaan Obama begitu mengharu biru di seantero dunia. Dari Obama, kita semua bisa belajar mengenai warisan kekuasaan. Bahwa kekuasaan adalah kekuatan untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan.




