Trump dan Arus Balik Perlawanan
Perintah eksekutif tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Amerika yang selama ini dibanggakan.
MONDAYREVIEW.COM - Belum lama menjabat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah mengeluarkan kebijakan kontroversial. Perintah eksekutif Donald Trump melarang pengungsi dan warga muslim dari tujuh negara untuk masuk ke Amerika Serikat. Ketujuh negara itu yakni Suriah, Irak, Iran, Libya, Sudan, Somalia dan Yaman.
Tak pelak resistensi pun muncul. Demonstrasi dilakukan di berbagai tempat, diantaranya di bandar udara-bandar udara di Amerika Serikat. Perintah eksekutif tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Amerika yang selama ini dibanggakan.
Pesaing Trump di pilpres, Hillary Clinton menyebut Trump temperamental dan tidak layak menjadi seorang presiden. Mantan Presiden AS, Barack Obama juga dikabarkan akan mengomentari kebijakan diskriminatif tersebut.
“Presiden Obama tergerak hatinya dengan situasi yang terjadi di berbagai tempat di negeri ini,” kata juru bicara Obama, Kevin Lewis. “Warga negara menjalankan hak konstitusional mereka untuk berserikat, berkumpul, dan menyuarakan pendapat agar didengar pejabat terpilih.”
Arus balik perlawanan tak hanya datang dari kalangan politikus. Dari ranah dunia usaha, Starbucks dan Google tak tinggal diam. Starbucks menyatakan segera mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia dalam 5 tahun mendatang. Sementara Google menyediakan uang 4 juta dolar AS untuk membantu para stafnya yang terkena imbas kebijakan Donald Trump tersebut.




