Sujud Semesta
MONITORDAY.COM - Sungguh serasi dan teratur alam raya yang kita lihat sehari-hari. Matahari yang selalu memancarkan cahayanya, angin yang selalu berhembus, hujan yang turun ke bumi, awan yang setia mengandung air untuk diturunkannya sebagai hujan, tumbuhan yang terus berkembang serta makhluk-makhluk lainnya yang kita saksikan setiap hari.
Semua keserasian tersebut merupakan bukti bahwa terdapat sebuah sistem yang telah menjadikan mereka berada dalam siklus keserasian dan keteraturan tersebut. Dialah Allah Swt. Sang Maha Pencipta jagat raya.
Al-Quran mengkonfirmasi fenomena yang sangat luar biasa tersebut untuk menyadarkan fikiran manusia:
“Tidakkah kalian ketahui, bahwa sesungguhnya segala makhluk yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia, bersujud kepada Allah! ….” (QS. Al-Hajj: 18).
Syaikh Mutawalli Sya’rawi (seorang ulama kharismatik Mesir) menjelaskan bahwa di alam raya ini terdapat empat jenis ciptaan Allah yang kasat mata:
Pertama, al-Jamad (segala sesuatu yang bentuknya pasif dan tidak dapat berkembang atau bergerak). Ini adalah jenis terendah di alam raya. Kedua, al-Nabat (tumbuh-tumbuhan), dimana alam nabat ini satu tingkat lebih tinggi dari al-Jamad, sebab al-nabat dapat berkembang dan bergerak.
Ketiga, al-Hayawan (binatang). Ia setingkat lebih tinggi dari al-Nabat, sebab ia bukan hanya bisa bergerak dan tumbuh, tapi ia bisa juga merasa (ihsas). Keempat, al-Insan (manusia). Derajat manusia lebih tinggi daripada al-Hayawan, sebab manusia memiliki kekuatan untuk berpikir serta kekuatan memilih.
Setiap jenis dari empat jenis makhluk tersebut, berkhidmah pada jenis lain yang ada di atasnya. Al-Jamad berkhidmah pada al-Nabat, al-Nabat berkhidmah pada al-Hayawan dan al-Hayawan berkhidmah pada al-Insan.
Jika tahapan ini kita susun, maka tiga jenis ciptaan tersebut berkhidmah pada manusia, dimana tiga jenis ciptaan lainnya diciptakan untuk berkhidmah pada manusia.
Karena itu, dalam sebuah hadits Qudis disebutkan: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku telah menciptakan segela sesuatu untuk kalian dan Aku menciptakan kalian untuk Aku. Maka, janganlah kalian tersibukkan oleh sesuatu yang sebenarnya untukmu dari yang sesuatu yang kalian untuk untuk-Nya.”
Lalu, seperti apakah sujud bumi, langit, matahari, rembulan pepohonan dan makhluk-makhluk lainnya? Sebagian orang menafsirkan bahwa sujud yang dilakukan oleh makhluk-makhluk tersebut adalah hanya kiasan, bukan makna sebenarnya.
Pernyataan ini kurang tepat, sebab cara dan bentuk sujud bagi setiap makhluk sangat beraneka ragam. Bahkan, sujud yang dilakukan manusia pun, dari satu kondisi ke keondisi lain sangat mungkin berbeda.
Sebagai contoh, seseorang yang fisiknya sehat dan normal, ia akan bersujud sebagaimana biasanya, yaitu dengan meletakkan keningnya ke lantai dengan posisi kepala menjadi bagian organ terbawah, sejajar dengan kaki manusia.
Tetapi orang yang sakit dan tidak bisa sujud seperti itu, bisa jadi cara yang ia lakukan saat bersujud berbeda: ia duduk saja, kemudian hanya merundukkan kepalanya dan tidak sampai menempel di lantai/sajadah.
Bahkan, orang yang sakit parah dan hanya terbaring di atas tempat tidur, ia tidak akan bisa bersujud dengan cara menempelkan keningnya di lantai. Ia hanya bisa bersujud dengan mengedipkan mata. Bahkan, ia hanya bersujud dengan gambaran pikirannya.
Oleh sebab itu, kita hanya cukup beriman, bahwa semua makhluk di jagat raya ini bersujud pada-Nya. Adapun cara mereka bersujud, Allah maha mengetahui dan makhluk-makhluk tersebut sangat mengetahui cara mereka bersujud kepada Allah.
Untuk itu, Allah Swt berfirman: “……semua makhluk mengetahui (cara) sujud/sembahyang dan tasbihnya (masing-masing), dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 41).
Secara umum, sujud adalah bentuk ketaatan dan kepatuhan serta penghormatan, lalu diungkapkan dalam bentuk gerakan tertentu yang mengisyaratkan ketundukkan dan kepatuhan tersebut.
Ketika seseorang bersujud dengan fisiknya, ia meletakkan kepala yang di dalamnya terdapat otak manusia, dimana kepala merupakan organ tubuh yang berada paling atas dalam tubuh manusia.
Pada saat bersujud, keberadaan kepala sejajar dengan kaki, yang merupakan anggota tubuh terredah pada organ manusia. Karena itu, kepala tidak boleh merasa lebih mulia dan lebih tinggi dari organ tubuh lainnya, sebab suatu ketika, ia juga akan berada di bawah.
Dengan demikian, sujud telah membawa seseorang pada nilai etis yang sangat luhur, dimana ia mengingatkan kita semua sebagai manusia agar tidak sombong dan semena-mena saat Allah mengangkat derajat dan kedudukan kita di atas orang lain, sebab suatu Ketika ia akan berada di bawah, bahkan bisa jadi di bawah yang sesuatu yang kita anggap lebih rendah itu.
Alam semesta yang sangat luar biasa, matahari yang daya energinya sangat dahsyat, gugusan galaksi di alam semesta, para malaikat dan makhluk lain di bumi dan langit, semuanya bersujud kepada Allah Swt untuk menunjukkan ketaatan dan ras atakdzim di hadapan Allah Swt.
Untuk itu, matahari tetap setia bersinar karena taat melaksanakan perintah Allah. Bumi dan planet lain terus berputar pada porosnya masing-masing tanpa saling bertabrakan, karena ia juga melaksanakan perintah Allah.
Demikian pula gunung-gunung, pepohonanan, angin, hujan daln lain sebagainya, semuanya beraktivitas, bersujud, tunduk dan patuh pada Dzat yang menciptakannya.
Jika jagat raya yang kekuatannya sangat dahsyat tersebut tunduk, patuh dan bersujud kepada Allah dan tidak pernah melawan perintah-Nya, bagaimana mungkin manusia, makhluk yang sangat kecil ini membangkang pada-Nya?




