Setelah Pencitraan Politik Itu Meluruh

Pada era memerintah inilah bisa jadi 'gincu polesan' akan luntur.

Setelah Pencitraan Politik Itu Meluruh
Persepsi

MONDAYREVIEW.COM - Pada 15 Februari 2017 pilkada langsung dihelat di beberapa daerah Indonesia. Ragam janji dan pencitraan tentu semakin intens dilakukan menjelang hari-H. Politik memang menyajikan persepsi. Ada yang dipersepsikan tegas, merakyat, peragu, mengandalkan pesona leluhurnya, dan sebagainya. Persepsi sendiri bisa jadi merupakan hasil dari “dapur polesan” yang dilakukan secara berkala dan massif.

Pada musim kampanye dikenal istilah era membuat puisi. Kala itu berbagai janji diujarkan dengan begitu indah dan manisnya. Jika sang kandidat terpilih, maka era berikutnya adalah era membuat prosa. Itulah masa dimana janji-janji kampanye haruslah ditunaikan.

Pada era memerintah inilah bisa jadi “gincu polesan” akan luntur. Segala janji kampanye bisa jadi bertolak belakang dengan kenyataan. Elektabilitas yang semula tinggi pun bisa jadi ambrol manakala memerintah. Dikarenakan harapan yang tidak terpenuhi ketika memerintah. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penguasa? Ialah dengan menyajikan sejumlah fakta dan “gincu baru”. Tentu penguasa tidak ingin persepsinya meluruh dan terdegradasi signifikan.

Maka sebagai warga negara yang baik, ada baiknya untuk berada dalam kutub yang proporsional. Tidak memuja secara berlebihan hingga terjadi kultus individu ataupun menyalahkan pemerintah atas segala kesalahan.