Puisi yang Membasuh Politik
Puisi yang membasuh politik merupakan denyut nadi. Pertanda para penyair masih peduli dengan atmosfer politik.
MONDAYREVIEW.COM - Pada hari ini (19/1) film Istirahatlah Kata-Kata ditayangkan di sejumlah bioskop Indonesia. Film Istirahatlah Kata-Kata berkisah tentang masa pelarian Widji Thukul di akhir periode Orde Baru. Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen ini didapuk menjadi film terbaik pilihan majalah Tempo tahun 2016. Widji Thukul merupakan sosok penyair yang termasyhur dengan diksi “hanya ada satu kata: lawan”.
Berbicara dalam konteks yang lebih luas, puisi bisa menjadi bahasa perlawanan dari narasi politik yang jengah. Puisi-puisi ber-tone politik merupakan karya yang bisa menggambarkan situasi zaman. Taufiq Ismail contohnya memotret tahun 1960-1966 dalam buku puisinya Tirani Dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi.
Sementara itu Chairil Anwar yang mati muda di usia 27 tahun juga mampu menangkap suasana zamannya. Diantaranya dengan puisi Karawang-Bekasi. Dalam puisi lainnya, Chairil memperlihatkan kepercayaannya pada tokoh politik melalui larik:
Persetujuan Dengan Bung Karno
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
Puisi memang mampu menangkup konstelasi politik. Termasuk kebusukannya dan perkara yang telah mampu melewati lintasan zaman. Seperti korupsi yang diungkap Taufiq Ismail melalui puisi berikut:
Potong Tiga Kali
Di Cina koruptor dipotong kepala
Di Arab koruptor dipotong tangan
Di Indonesia koruptor dipotong masa tahanan
Puisi yang membasuh politik merupakan denyut nadi. Pertanda para penyair masih peduli dengan atmosfer politik.




