Politikus Karier
Menjadi pemimpin adalah menderita.
MONDAYREVIEW.COM - Dalam debat pilkada DKI Jakarta semalam, moderator Ira Koesno mengajukan pertanyaan yang cukup tajam di akhir sesi. Ira Koesno mempertanyakan agar para calon pemimpin DKI Jakarta tersebut tuntas merampungkan amanahnya selama 5 tahun dan tidak tergoda pilpres tahun 2019.
Menjadi pemimpin adalah menderita. Begitu kira-kira yang diungkapkan politikus Sjahrir di era awal kemerdekaan Indonesia dahulu. Hatta sementara itu tak segan mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden ketika dirinya sudah tak sejalan dengan Presiden Sukarno. Jangan lupakan Agus Salim yang kerap berpindah-pindah tempat tinggal, termasuk hingga ke gang-gang sempit. Padahal Agus Salim seorang Menteri Luar Negeri Indonesia.
Ada yang salah jika jabatan politik diparalelkan dengan karier. Semakin tinggi jabatan, semakin moncer kariernya – pernyataan tersebut merupakan konsep yang keliru. Dikarenakan jabatan publik sesungguhnya sebuah amanah besar. Menjadi pejabat publik akan timbul pertanyaan mengenai sejauh mana kekuasaannya dapat menimbulkan kebaikan.
Maka preseden pejabat publik yang tidak rampung menyelesaikan jabatannya untuk kemudian mengejar kursi yang lebih tinggi selayaknya tidak terulang. Dari lanskap politik Indonesia era Orde Lama kita layak mengambil pembelajaran. Bahwa memimpin adalah menderita dan untuk menghadirkan kebaikan yang lebih besar. Dalam konteks kontemporer, langkah Walikota Surabaya, Tri Rismaharini layak diapresiasi. Kekukuhannya untuk merampungkan jabatannya di kota Pahlawan, ketimbang tergoda untuk maju di pilkada DKI Jakarta. Semoga Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih nantinya akan setia hingga akhir masa jabatannya.




