Politik Sarungan Ala Jokowi
Sarung menunjukkan pesan politik identitas.
MONDAYREVIEW.COM - Ada yang mencuri perhatian publik dalam penampilan Presiden Jokowi. Bukan kali ini saja memang. Jokowi diantaranya pernah menjadi magnet fashionista dengan jaket bomber-nya kala memberikan keterangan kepada pers terkait aksi demo 411. Magnet fashionista kembali dperlihatkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Jokowi bersarungan sejak dari Istana Bogor sampai di Pekalongan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Habib M. Lutfi bin Yahya dan mengunjungi Pesantren At-Taufiqy (8/1).
Sarung sendiri sejatinya bukan sekadar busana yang terlepas dari konteks sejarah dan afiliasi. Ingat di masa Orde Lama, salah satu perbedaan kasat mata antara politikus Masyumi dan NU adalah busana mereka. Para politikus NU dikenal dengan istilah sarungan, sedangkan para politikus Masyumi menggunakan busana ala Barat. Tak pelak dalam beberapa hal Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia lebih dekat derajat keakrabannya – baik karena busana yang serupa dan latar belakang para politikusnya yang mengenyam pendidikan Barat.
Maka apa yang disiratkan dan diperlihatkan oleh Jokowi dengan menggunakan sarung menunjukkan pesan politik identitas. Bahwa Jokowi berusaha untuk merangkul kaum nahdliyin. Dengan gelombang tuntutan terhadap Jokowi di aksi 411 dan 212 maka beliau memang harus terus menjalin kohesi dengan ormas dan massa Islam. Dikarenakan ormas dan umat Islam merupakan elemen krusial bagi pembangunan bangsa ini.
Semoga politik sarung ini tidak hanya “politik kosmetik” yang terlihat di permukaan. Melainkan politik substansial, dimana Jokowi mampu mengakomodir keinginan umat Islam dalam rangka turut membangun Indonesia.




