Politik Isolasi Ala Amerika Serikat
Membatasi secara ketat para imigran, senafas dengan keinginan para politikus sayap kanan di Eropa.
MONDAYREVIEW.COM - Riak kontroversi dari Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump mulai menampakkan kenyataan. Perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Trump pada Jumat (27/1) berisi ketentuan larangan masuk semua pengungsi ke AS selama 120 hari. Seperti diberitakan CNN, perintah itu juga menolak kedatangan seluruh pengungsi asal Suriah. Pemblokiran kedatangan warga dari 7 negara mayoritas muslim ke AS selama 90 hari. Ketujuh negara itu yakni Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.
Perintah eksekutif dari Trump tersebut telah menuai kegaduhan di bandar udara di AS dan di beberapa negara. Imigran serta pengungsi yang telah mendapat visa, gagal masuk ke AS. Banyak pula yang gagal berangkat dari bandara keberangkatan.
Apa yang dilakukan oleh Trump sejatinya telah diwanti-wanti semenjak masa kampanye sosok yang memiliki pengalaman sebagai pengusaha properti ini. Proteksionisme secara ekonomi, pembatasan orang yang masuk ke Amerika Serikat dilakukan secara ketat – merupakan 2 tema yang diusung Trump di masa kampanye. Jika berkaca pada pidato terakhir Obama yang menekankan pada nilai-nilai Amerika, maka apa yang dilakukan Trump sesungguhnya gugatan serius bagi nilai-nilai Amerika.
Amerika Serikat yang memiliki latar historis sebagai tanah yang diharapkan, bisa jadi di era Trump akan sedemikian tertutup terhadap kalangan luar. Menutup pintu ataupun membatasi secara ketat para imigran, senafas dengan keinginan para politikus sayap kanan di Eropa. Angela Merkel PM Jerman mendapatkan kritik tajam karena politik tangan terbukanya kepada para pengungsi dan imigran.
Apa yang dilakukan Amerika Serikat ini bisa dibilang arus balik dari globalisasi. Maka akankah “tembok-tembok” tinggi pembatas akan dibangun di masa pemerintahan Trump? Dan Amerika yang ingin digdaya kembali itu mengkunci rapat wilayahnya dari para imigran?




