Perkuat Riset di Lembaga Pendidikan Maritim

Poros Maritim sebagai gagasan besar menjadi niscaya untuk diwujudkan

Perkuat Riset di Lembaga Pendidikan Maritim
Ilustrasi Istimewa

MONDAYREVIEW.COM - Poros Maritim sebagai gagasan besar menjadi niscaya untuk diwujudkan. Sebagaimana dikutip dari situs ICS (International Chamber of Shipping) sebagai Kamar Dagang Pelayaran Dunia dan IMO (International Maritime Organisation) sebagai organisasi pelayaran internasional, 80-90% perdagangan dunia dan mobilitas yang menyertainya menggunakan angkutan laut. Lebih dari 50.000 kapal mengangkut berbagai macam muatan.

Dua-pertiga bumi kita merupakan perairan. Sehingga sejak masa lampau, transportasi melalui laut dan sungai telah menjadi andalan bagi manusia di berbagai belahan dunia. Jarak yang jauh dan beban yang berat bisa diangkut dengan murah melalui jalur laut. Semakin tinggi capaian teknologi kemaritiman, semakin jauh kapal laut bisa menjangkau, dan semakin besar kapasitas dan ragam muatannya.

Laut juga menjadi sumber kehidupan dengan berbagai hasil tangkapan. Sehingga pendidikan maritim tidak hanya mencakup ketersediaan SDM dalam bidang pelayaran niaga. SDM di bidang Kelautan dan Perikanan juga termasuk di dalamnya. Di tingkat tertentu ada spesialisasi bidang, di tingkat lain ada integrasi dan sinergi antar bidang atau disiplin ilmu, teknologi, dan ketrampilan teknis.  

Hingga hari ini, kita masih jauh dari mampu untuk menyediakan infrastruktur, baik kapal maupun pelabuhan, untuk memenuhi tuntutan perdagangan yang terus meningkat. Perdagangan dunia mengalami fluktuasi dari masa ke masa, namun angkutan barang atau logistik melalui jalur laut relatif terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan ekonomi dunia.  Bahan pangan, minyak dan gas, serta berbagai komoditas penting lainnya mengandalkan jalur laut untuk diangkut dari satu daerah ke daerah lain, bahkan melintasi batas negara dan benua.

Visi Poros Maritim tentu tidak bertentangan secara diametral dengan visi agraris. Harapannya, justru komoditas pertanian akan semakin kompetitif dengan jalur distribusi yang kuat untuk menunjang pedagangan komoditas ini baik di dalam negeri maupun untuk kepentingan ekspor. Dengan Tol Laut, misalnya, besar harapan kita agar surplus dan ketersediaan komoditas pertanian di suatu provinsi atau daerah dapat didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. 

60% dari arus perdagangan dunia yang melalui angkutan laut melalui dan bersinggungan dengan wilayah laut Indonesia. Terutama Selat Malaka dan Laut China Selatan, dua kawasan yang menjadi alur pelayaran terpadat di dunia. Fakta ini menjadikan gagasan Poros Maritim menjadi niscaya untuk diwujudkan. Sehingga Indonesia bisa menjadi pemain kunci dalam mengendalikan kawasan ini.

Sementara itu, kesiapan SDM merupakan syarat mutlak untuk menjadi pengendali Poros Maritim  Penyesuaian dan terobosan kebijakan, peraturan perundang-undangan, birokrasi, dan tata kelola pemerintahan ke arah visi Poros Maritim memang menjadi tantangan besar. Tumpang tindih ketentuan dan undang-undang yang berkaitan dengan sektor maritim masih banyak dan melibatkan ego-sektoral antar pemangku kepentingan. Namun, mengingat visi Poros Maritim ini sangat krusial, segala upaya dan kerja keras harus dilakukan. Ketentuan dan Sistem Tata Kelola yang handal akan menjadi senjata utama bagi bangsa kita untuk menjadi pengendali di kawasan.  

Untuk melakukan perubahan mendasar dan menjawab tantangan dalam mewujudkan tata kelola sektor maritim, maka kesiapan SDM menjadi salah satu kuncinya. Kompetensi pelaut, nelayan, pengelola pelabuhan, dan SDM lain yang terkait secara langsung dengan ujung tombak pelayaran, kelautan dan perikanan menjadi kunci dan berada di garis terdepan penguasaan sektor maritim. Pada aras yang lebih tinggi adalah mereka yang menekuni dunia perkapalan dan kelautan. Dan dukungan utama yang sering kurang dilirik perannya adalah SDM yang kompeten dalam riset terutama ilmu-ilmu dasar terkait disiplin ilmu maritim.     

Pendidikan Maritim sebagai candradimuka pembentukan SDM handal. Pendidikan maritim di Indonesia masih dilihat sebagai pendidikan di jalur vokasi semata. Tentu saja itu tidak sepenuhnya salah. Namun, sinergi dan keterkaitan pendidikan dan pelatihan pelayaran dengan disiplin ilmu perkapalan dan kelautan, serta perikanan harus ditingkatkan.

Pendidikan maritim sebagai ujung tombak pembentukan SDM Maritim akan semakin optimal perannya dengan mengubah ‘mindset’ dan ‘gaya’ nya dalam menyelenggarakan proses diklat. Berkaca pada proses reformasi dari dalam di tubuh TNI dan POLRI, maka lembaga pendidikan dan pelatihan maritim perlu mempercepat upaya-upaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan. Visi untuk membentuk SDM yang kompeten dan profesional dengan cara yang profesional sudah tidak bisa lagi ditunda-tunda.

Riset sebagai sarana untuk mengawal perubahan dan berada di garda terdepan inovasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang handal. Lembaga pendidikan maritim bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan bila didukung dengan strategi yang berangkat dari data dan fakta. Data dan fakta yang dianalisis dengan cermat dan menghasilkan rekomendasi yang terarah dan terukur. Dan itu semua dibingkai dalam tradisi riset yang kuat.

Lembaga Pendidikan Maritim perlu mengakses perkembangan penelitian yang diinisiasi Kemenristekdikti. Sebagaimana dikutip dari situs dikti.go.id, dalam bidang Termodinamika Bangunan Apung-BPPT baik dalam rancang-bangun kapal kontainer, juga dalam layanan jasa teknologi pengujian ship-powering, manouvering, dan seakeeping. Juga perkembangan riset di Pusat Unggulan Iptek Broadband Wireless Access pada Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, telah mengembangkan produk inovatif dalam mendukung pemanfaatan sumber daya maritim yaitu melalui produk OWN GRID yakni suatu Perangkat telekomunikasi untuk Nelayan.

Berbagai kerjasama penelitian dengan peneliti dari luar negeri juga dapat ditingkatkan. Pun dalam penelitian tingkat dasar yang sederhana. Misalnya bagi para pengajar di lembaga pedidikan maritim dengan pengajar di berbagai lembaga serupa yang tergabung dalam komunitas pengajar antar negara.  Gerakan dari dalam dan bottom-up komunitas dan pemangku kepentingan terkait sektor maritim untuk membangun tradisi riset menjadi penting artinya. Dengan tradisi riset yang kuat berbagai persoalan dan tantangan bisa dijawab secara bertanggungjawab. Dengan data dan fakta. Berbagai langkah pengambil kebijakan terkait sektor maritim akan semakin terukur. Dan visi untuk menjadi pengendali Poros Maritim Dunia bisa menemukan jalannya. Tidak berhenti menjadi utopia semata.

M Taufan Agasta