Penulis Tere Liye Mengingatkan Humor Lebay Terhadap SBY
Kalaupun kita berseberangan, lawan politik, lawan pilkada, lawan pilpres, maka itu bukan pembenaran kita bisa mengolok-oloknya.
MONDAYREVIEW.COM – Penulis bisa berperan lebih, tidak hanya mempengaruhi melalui novelnya. Penulis pun bisa turut menginspirasi dengan sikapnya terhadap isu-isu kontemporer. Hal semacam itulah yang dilakukan Tere Liye. Yang kekinian adalah tanggapan Tere Liye terhadap masifnya khalayak yang mentertawakan SBY. Penulis novel ‘Bumi’ ini menulisnya di notes Facebook dengan judul ‘Bercermin’.
SBY memang menjadi sasaran obyek humor dengan terminologi ‘saya bertanya kepada bapak Presiden dan Kapolri’. Bahkan anak Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep pun ikut menjadikan Presiden RI ke-6 itu sebagai sasaran lelucon dengan menyertakan ‘mantan yang nyebelin’ dan ‘saya bertanya kepada bapak Presiden dan Kapolri’.
Tere Liye mengungkapkan bagaimana kurangnya pemikiran mendalam sebelum mem-posting di media sosial.
“Hari ini siapapun bisa menulis di akun media sosialnya. Siapapun bisa berceloteh, terserah dia mau ngapain. Apakah dia sempat membaca ulang postingannya? Tidak. Jari-jemarinya lebih cepat mengetik dibanding kepalanya berpikir. Apa yang terjadi? Orang2 merasa bebas saja memaki, membully siapapun. Membaca hiruk-pikuk orang2 mentertawakan SBY belakangan di twitter, dll, sangat menyedihkan. Bangsa ini telah kehilangan rasa hormat, dirayakan dengan terbahak2, padahal sejatinya, seharusnya kita mentertawakan diri sendiri. Mentertawakan bahwa kita tidak pernah bercermin sedikit pun. Kita teh saha?” urai Tere Liye.
Tere Liye pun mengingatkan bahwa pergantian pemerintah merupakan sesuatu yang mesti terjadi. Maka dia pun menyarakan agar tidak menanam bibit-bibit kebencian.
“Untuk lupa, rezim akan berganti, penguasa akan turun, catat baik2, jika kalian pendukung Jokowi hari ini, mentertawakan SBY, hanya soal waktu, giliran Jokowi akan jadi mantan, dan dia ditertawakan,” ungkap penulis novel Negeri Para Bedebah ini.
Tere Liye pun memberikan saran agar perbedaan pilihan politik bukanlah justifikasi untuk mengolok-olok pihak yang berseberangan pendapat.
“Kalaupun kita berseberangan, lawan politik, lawan pilkada, lawan pilpres, maka itu bukan pembenaran kita bisa mengolok-oloknya. Terserah jika kalian tetap merasa sah-sah saja melakukannya, tapi kalian justeru sedang menanam benih pembalasan besok lusa. Dan bangsa ini tetap merangkak begitu2 saja,” tulis Tere Liye panjang lebar.




