Pendidikan dan Lagu Anak

Bagaimana pesan edukatif bisa diajarkan dengan cara yang menyenangkan.

Pendidikan dan Lagu Anak
Lagu anak

MONDAYREVIEW.COM - Fenomena “Om Telolet Om” berhasil merambah hingga mancanegara. Berhulu dari permintaan untuk membunyikan klakson, permintaan itu menjadi hits. Yang layak dijadikan renungan yakni adanya pendapat bahwa “Om Telolet Om” membuktikan kurangnya hiburan dari anak-anak di daerah Pantura.

Tak bisa dipungkiri, anak-anak membutuhkan hiburan yang tepat sesuai dengan porsi umurnya. Salah satu hiburan yakni berupa lagu anak. Namun, sayangnya lagu anak di era sekarang ini sedang mengalami “kerontang”. Maka tak mengherankan jika anak-anak malahan menyanyikan lagu dewasa. Lagu-lagu yang sesungguhnya tak sesuai dengan klasifikasi umurnya.

Pada eranya, Ibu Sud menghadirkan sejumlah lagu anak berkualitas seperti Naik Delman, Hujan, Burung Ketilang. “Di dalam syairnya tak tersirat adanya unsur politik dan yang tampak hanya memunculkan keindahan alam, dunia binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain kejadian sekelilingnya,” tulis S.Sumardi dalam biografi Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud): Karya dan Pengabdiannya.

Dalam Kompas, 27 Agustus 1980, Ibu Sud menjelaskan proses kreatifnya dalam berkarya. Menurutnya, membuat lagu anak harus hati-hati serta perlu mempertimbangkan beberapa segi. Di samping pemilihan kalimat, tinggi-rendahnya intonasi, juga panjang-pendeknya bait dan cara penyajian.

Lagu anak dibutuhkan untuk membawa pesan edukasi secara lembut. Bagaimana pesan edukatif bisa diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Lagu anak juga dapat membentuk pola pikir dari sang anak.

Dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya perlu diperhatikan untuk memperhatikan aspek seni dari peserta didik. Dalam hal ini lagu anak perlu untuk kembali digiatkan dan diupayakan oleh pemerintah dan para pencipta lagu.