Partisipasi Masyarakat dan Kompetisi Yang Sehat Jadi Tolak Ukur Pemilu

Partisipasi masyarakat menjadi tolak ukur Pemilu yang demokratis

Partisipasi Masyarakat dan Kompetisi Yang Sehat Jadi Tolak Ukur Pemilu
Badan Pengawas Pemilu

MONDAYREVIEW.COM, Jakarta – Partisipasi masyarakat menjadi tolak ukur Pemilu yang demokratis. Seperti yang disampaikan oleh Nasrullah, Pimpinan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), bahwa pemilu ini milik rakyat, bukan milik penyelenggara Pemilu atau pemerintah.

 “Partisipasi masyarakat sangat penting karena pemilu ini milik rakyat, bukan milik penyelenggara pemilu atau pemerintah,” kata Nasrullah (28/1).

Jika dalam Pemilu ini rakyat diposisikan sebagai objek saja, tentu rakyat akan diperlakukan secara tidak manusiawi dan hanya dibutuhkan sekali dalam lima tahun. Tentunya, pola berpikir semacam ini tentu tidak beretika dan miskin moralitas.

 “Ini merupakan cara berpikir yang tidak manusiawi, sangat tidak beretika, dan miskin dari segi moralitas,” ujarnya.

Bawaslu dengan tegas ingin melakukan perubahan dengan cara mengembalikan Pemilu dimana bahwa peran serta masyarakat sangat penting. Masyarakat juga punya andil untuk turut mengawasi Pemilu.

“Peran serta masyarakat ini sangat penting. Tidak mungkin pengawas bekerja dengan sendiri. Kita butuh masyarakat untuk turut mengawasi,” ungkapnya.

Selain itu, yang menjadi tolak ukur lain untuk Pemilu yang demokratis adalah terjadi proses kompetisi yang sehat.

“Jajaran pengawas pemilu perlu mewujudkan proses penyelenggaraan pemilu yang kompeten,” tutupnya.