Partai Politik dan Personifikasi Kekuasaan

Personifikasi kekuasaan bisa jadi menimbulkan para kader yang asal bapak/ibu senang.

Partai Politik dan Personifikasi Kekuasaan
Partai politik

MONDAYREVIEW.COM - Partai politik di Indonesia erat kaitannya dengan narasi para elite partai. Dalam konteks kekinian, simaklah PDIP dengan Megawati Soekarnoputri, Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Gerindra dengan Prabowo Subianto. Personifikasi dan terpusatnya kekuasaan pada figur-figur tersebut begitu kentara.

Contohnya dalam penentuan Basuki Tjahaja Purnama sebagai kandidat di pilkada DKI Jakarta. Bagaimana pendapat dari para elite politik PDIP akhirnya menemui kata akhir manakala Megawati menitahkan kata. Pilkada DKI Jakarta sendiri ditenggarai sebagai pertarungan dari Megawati-SBY-Prabowo dengan masing-masing memajukan jagoannya.

Partai politik sendiri seyogianya tidak tergantung pada 1 figur utama. Parpol harusnya membentuk sebuah sistem organisasi. Dengan demikian kader-kader di partai politik dapat berkreasi dan berpolitik secara sehat.

Berjalannya sistem organisasi di parpol menjadi sinyalemen berjalannya konsep demokrasi di partai politik. Jangan lupakan bahwa usia dari parpol seharusnya bisa lebih lama dibandingkan usia biologis dari seorang tokoh.

Personifikasi kekuasaan bisa jadi menimbulkan para kader yang asal bapak/ibu senang. Personfikasi kekuasaan juga membuat dinamika di parpol menjadi selalu berepisentrum dan menemui kata putus di elite politik tertentu.

Denyut politik di negeri ini turut ditentukan oleh partai politik. Maka partai politik sudah selayaknya mawas diri untuk membuat sistem internal partai yang demokratis. Dari hulu partai politik inilah, nantinya akan bermuara di Indonesia yang lebih luas dan kompleks.