Ngopi di Perpus, Asyik Juga

Budaya ngopi untuk membincangkan kerjasama bisnis atau sekedar ketemu teman lama semakin menguat. Kedai-kedai kopi merebak. Orang mencari suasana agar terhindar dari kejenuhan. Ya serius ya sambil melonggarkan saraf dari ketegangan sehari-hari.

Ngopi di Perpus, Asyik Juga

 

LAKEYBANGET.COM - Budaya ngopi untuk membincangkan kerjasama bisnis atau sekedar ketemu teman lama semakin menguat. Kedai-kedai kopi merebak. Orang mencari suasana agar terhindar dari kejenuhan. Ya serius ya sambil melonggarkan saraf dari ketegangan sehari-hari.

Beberapa kedai kopi punya konsep menjadi tempat untuk diskusi bahkan menyediakan koleksi bacaan hingga pelanggan bisa menyerap pengetahuan sambil menunggu rekannya. Apalagi kalau memang tidak ada yang ditunggu.

Walaupun gawai menemani dengan segudang akses informasi namun beberapa koleksi bacaan dalam bentuk tercetak tetap menarik. Setidaknya mengistirahatkan mata dari layar gawai yang memancarkan radiasi. Pun beberapa koleksi bacaan tercetak alias buku dan majalah cetak tidak ada format digitalnya atau tidak tersedia di dunia maya.

Kedai-kedai kopi cenderung menyediakan akses wifi. Maka literasi digital untuk mengakses sumber-sumber elektronik yang berkualitas bisa menajdi pilihan dalam mendorong masyarakat agar memanfaatkan internet untuk memperkaya pengetahuannya. Media online dan media sosial tentu menyediakan banyak konten bermanfaat, namun sumber kepustakaan nasional dan internasional bisa semakin banyak diperkenalkan.

Kalau kedai-kedai kopi sudah menjadi titik literasi, maka perpusatakaan pun bisa menjadi ‘kedai kopi’. Kalau kita main ke perpusnas, kita bisa ngopi di lantai dasar. Kita juga bisa menikmati sajian berbagai kuliner di lantai 4. Ada kantin di sana. Kalau ingin membuat kegiatan diskusi dan pemutaran film ada juga ruangan yang tersedia.

Konsep perpustakaan yang lebih mudah diakses oleh publik menjadi semakin penting. Gdeung perpustakaan bisa menjadi tempat yang lebih ramah dan menyenangkan. Keluarga bisa menikmati buku dan koleksi lainnya. Menyenangkan menajdi kata kuncinya. Keramahan menjadi pintu gerbangnya.

Yang masih menjadi kendala bagi pengunjung perpusnas adalah akses lift untuk menuju ke lantai-lantai atas. Sampai lantai 4 memang ada eskalator yang membuat kita tak harus lama menunggu antrean lift, namun koleksi monograf, sumber elektronik, dan koleksi menarik lainnya ada di lantai yang relatif tinggi.

Terlepas dari semua itu, kesan bangunan perpustakaan sebagai tempat yang ‘serius dan dingin’ harus dikikis. Di sana kita layak dapatkan kehangatan, pencerahan, dan inspirasi. Untuk melepaskan diri dari kegelapan zaman, Untuk masa depan yang lebih cerah dan menjanjikan. Perpustakaan membuka jendela kehidupan melalui cakrawala pengetahuan.