Mulutmu Harimaumu
Maka PR besar bagi Gubernur dan Wagub DKI Jakarta terpilih nantinya untuk mengembalikan persatuan ini. Sementara warga pun dapat memerankan sebagai civil society yang baik dengan merekatkan kembali persatuan manakala kontestasi telah usai.
MONDAYREVIEW.COM – Sejak hari Ahad (16/4) masa tenang Pilkada DKI Jakarta dimulai. Kontestasi Pilkada DKI Jakarta memang sengit adanya. Tak hanya para elite politik yang aktif saling berbalas kata, melainkan rakyat kebanyakan. Sengitnya dapat terlihat di media sosial dan dalam kehidupan sehari-hari.
Tak ayal pembelahan dan pertikaian kata pun terjadi. Anyaman persahabatan, persaudaraan pun terancam terkoyak. Beberapa perkataan dukungan dan menyerang kontestan lain ditengarai telah offside dan berlebihan. Offside dalam pilihan kata, dalam konten yang disampaikan, alhasil dari perkataan tersebut bisa jadi banyak hati yang terluka.
‘Mulutmu Harimaumu’ begitulah kalimat bijak bestari dari masa lalu yang masih tetap relevan hingga kini. Dari perkataan, persatuan dapat menjadi tanda tanya. Maka di masa tenang sekarang ini, bukan berarti saling berbalas kata tidak intens. Para pendukung masih gencar menyakinkan untuk memilih jagoannya sembari menyerang pihak lawan.
Maka PR besar bagi Gubernur dan Wagub DKI Jakarta terpilih nantinya untuk mengembalikan persatuan ini. Sementara warga pun dapat memerankan sebagai civil society yang baik dengan merekatkan kembali persatuan manakala kontestasi telah usai.





