MONITORDAY.COM - Persoalan kewalian bukanlah hal yang mudah untuk dibuktikan. Dalam khazanah literatur tasawuf, ada ungkapan bahwa tidak ada yang mengetahui kewalian seseorang kecuali seorang wali juga.
Yang terjadi justru banyak orang-orang tak bertanggung jawab yang mengaku dan mengklaim wali. Padahal akhlak dan sikap yang dianggap wali tersebut jauh panggang dari api. Bahkan ada yang menganggap seorang gila sebagai wali majdub.
Kasus terbaru menimpa seorang penceramah terkenal Buya Arrazy Hasyim. Pendakwah muda yang sedang naik daun tersebut menjadi buah bibir karena dia mengambil seorang guru. Persoalannya, guru yang dianggap sebagai Wali Malamatiyah bahkan Imam Mahdi tersebut mengajarkan hal yang tidak kuat landasannya secara syariat.
Misalnya yang diajarkan adalah bahwa kita semua mempunyai nama ruh selain nama jasad. Sang guru yang bernama Ahmad Al Badr mengaku bisa mengetahui nama-nama ruh. Persoalan lainnya adalah sang mursyid mengaku bisa juga berkomunikasi dengan nabi Khidr.
Soal Nama Ruh ini disanggah panjang lebar oleh Lajnah Bahtsul Masail PDNU Jember Abdul Wahab Ahmad. Berikut penjelasannya:
1. Imam Bukhari dalam kitab sahihnya membuat sebuah bab khusus berjudul بَابُ مَا يُدْعَى النَّاسُ بِآبَائِهِمْ yang artinya adalah "Bab hadis di mana orang-orang dipanggil disertai nama Bapaknya-bapaknya". Maksud Imam Bukhari yang kita yakini sebagai salah satu waliyullah besar ini adalah besok di akhirat seseorang dipanggil dengan nama lengkapnya dan nama bapaknya. Di antara hadis yang beliau bawakan adalah hadis berikut:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ الغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ القِيَامَةِ، يُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ "
"Dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang penipu diberikan panji penanda di hari kiamat dan dikatakan: "Inilah penipuan fulan bin fulan". (HR. Bukhari).
Jadi, bila nama anda Zaid lalu ayah anda bernama Umar, maka akan dipanggil Zaid bin Umar (Zaid putra Umar). Hadis ini jelas menyebutkan bahwa nama yang dipakai adalah nama sewaktu dunia dengan penjelasan Imam Bukhari bahwa bapak yang dimaksud adalah bapak masing-masing.
2. Kesimpulan di atas diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dan Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, isinya sebagai berikut:
إنّكم تُدعَوْنَ يومَ القيامَةِ باسمائِكُم وأسماءِ آبائكُم، فاحسِنُوا أسماءكم
"Sesungguhnya kalian di hari kiamat dipanggil dengan nama kalian sendiri dan nama bapak-bapak kalian sendiri, maka baguskanlah nama kalian" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Meskipun dalam sanad hadis ini ada kelemahan sebab ada jalur yang terputus, namun pensahihan Ibnu Hibban dan ditambah isinya yang senada dengan Hadis di Sahih Bukhari masih membuatnya diterima dengan luas oleh para ulama. Mereka menggunakan hadis ini sebagai anjuran untuk memberikan nama yang baik pada anak sebab dengan nama itulah dia akan dipanggil di akhirat.
3. Dalam hadis lainnya Rasulullah pernah bercerita tentang keadaan ruh manusia yang jiwanya tenang. Tatkala ia mati, ruhnya dibawa melewati para malaikat, maka para malaikat bertanya:
مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا
"Ruh apa yang bagus ini?". Mereka menjawab: "Ini adalah Fulan bin Fulan, disebutkan dengan nama terbaiknya yang digunakan manusia ketika dia hidup di dunia". (HR. Ahmad)
Jadi, ketika misalnya seseorang mempunyai beberapa nama panggilan, maka nama terbaik yang akan dipakai nanti akhirat dengan disertai nama ayahnya. Misalnya seseorang bernama Sunarto putra Jatmiko lalu setelah Haji dia berganti nama menjadi Abdullah dan teman-teman akrabnya menyebutnya Pak Gendut karena dia gemuk, maka yang akan digunakan nanti adalah Abdullah bin Jatmiko sebab itu yang terbaik,
4. Dalam al-Qur'an tidak disebutkan perihal penyebutan nama di akhirat ini, hanya saja sebagian ahli tafsir mengartikan ayat berikut:
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ { [الإسراء: 71]
dengan arti: "Pada hari di mana setiap orang akan dipanggil beserta "imam"-nya"
Kata "imam" dalam ayat tersebut oleh sebagian mufassir dianggap sebagai jamak dari kata "umm" alias ibu. Maksudnya di hari kiamat nanti manusia dipanggil dengan namanya sendiri dan nama ibunya, semisal: Umar bin Fatimah. Yang berpendapat seperti ini adalah Muhammad bin Ka'ab sebagaimana dinukil dalam Tafsir, al-Qurthubi dan banyak tafsir lain.
Namun menurut Zamakhsyari dalam Tafsirnya, ini adalah tafsiran bid'ah. Mayoritas ahli tafsir mengartikan kata "imam" dalam ayat itu sebagai kitab catatan amal atau tokoh panutannya sewaktu di dunia. Dengan demikian, pendapat pemanggilan dengan nama ibu ini tidak kuat.
Dari berbagai bocoran kabar ghaib oleh Rasulullah di atas, kita tahu bahwa yang dipakai nanti di akhirat adalah nama sewaktu di dunia. Dan apabila namanya lebih dari satu, maka seorang mukmin akan dipanggil dengan nama terbaik yang dia punya dengan disertai nama ayahnya. Siapa yang berkata berlainan dengan ini, maka layak diminta dalilnya dari al-Qur'an dan hadis. Bila sumbernya bukan al-Qur'an dan hadis, maka sepatutnya diabaikan saja.