Kerumunan di Media Sosial
Echo chamber (ruang gema), yaitu ketika orang hanya berkomunikasi dengan orang-orang lain yang sudah sepikiran.
MONDAYREVIEW.COM - Telusurilah media sosial hari per hari, maka Anda akan mendapati begitu banyaknya gagasan yang berkembang. Media sosial bagaikan pasar besar gagasan. Maka tak mengherankan jika media sosial diyakini sebagai salah satu sinyalemen baiknya demokrasi. Dikarenakan terdapat kebebasan berpendapat, berekspresi.
Dalam lanskap politik, media sosial dapat menjadi penyatu gagasan untuk menumbangkan pemerintahan yang lalim. Perasaan terzalimi dapat bersatu dan menggema. Dan dari embrio di media sosial, aksi nyata di jalanan serta sejumlah movement politik pun terjadi. Tunisia dan Mesir merupakan sampelnya.
Seperti diungkap Putut Widjanarko (dosen Paramadina Graduate School of Communication) bahwa media sosial memungkinkan orang-orang yang tadinya tak terhubung bisa menjadi tergabung dalam jaringan orang-orang yang punya pikiran yang sama. Kajian Polonski (2016), ahli studi internet, menunjukkan semakin intensif orang berhubungan dngan kelompok orang yang memiliki pikiran yang sama, pandangan yang sebelumnya dipegang pun akan menjadi semakin ekstrem. Terciptalah apa yang disebut sebagai echo chamber (ruang gema), yaitu ketika orang hanya berkomunikasi dengan orang-orang lain yang sudah sepikiran sehingga memperkuat dan memperteguh pikiran-pikiran tersebut.
Jika pada kasus Tunisia dan Mesir, media sosial dapat berperan positif untuk menyatakan kekuasaan telah zalim dan lalim. Maka di sisi lainnya media sosial dapat mensegregasi suatu masyarakat. Seperti diungkap dalam kajian Polonski tersebut, maka bisa jadi akan terbentuk kerumunan di media sosial dengan nilai-nilai kebencian. Dalam kerumunan itu akan terakumulasi dan terbarui kebencian tiap kalinya. Maka simaklah media sosial Anda, bukankah akan Anda dapati pola tersebut? Mereka yang dengan gahar “merajam” pihak yang berbeda pendapat dan terbentuk solidaritas antara mereka yang berpendapat serupa.
Dalam fragmen seperti itu, media sosial malahan menjadi jembatan penyatu kerumunan kebencian. Kerumunan yang akan membentuk tembok dan demarkasi bahwa mereka yang berbeda adalah salah dan layak dirisak. Apakah akan terus begini dan sedemikian muram wajah media sosial keseharian kita? Masing-masing dari kita bisa menjawabnya dengan kontribusi di media sosial. Akankah media sosial menjadi jembatan penghubung kebencian atau menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kritik konstruktif yang proporsional – kitalah yang bisa menjawabnya.




