Kementerian PUPR Diminta Segera Perbaiki Sekolah Rusak di Aceh Oleh Mendikbud
Bencana alam gempa bumi yang terjadi di Pidie Jaya, berakibat kepada rutinitas belajar mengajar di sekolah-sekolah di Pidie Jaya
MONDAYREVIEW.COM, Jakarta - Bencana alam gempa bumi yang terjadi di Pidie Jaya, berakibat kepada rutinitas belajar mengajar di sekolah-sekolah di Pidie Jaya, Aceh. Hal ini pula yang membuat Mendikbud meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera memperbaiki dan membangun sekolah yang rusak akibat gempa di sana.
"Saya mengharapkan Kementerian PUPR segera menuntaskan pembangunan ruang kelas sementara dan memulai pembangunan gedung sekolah permanen, sehingga Kemdikbud dapat memenuhi kewajiban menyediakan mebel dan alat pembelajaran yang dibutuhkan ruang-ruang kelas nanti. Gedung sekolah yang baru nanti harus lebih baik dari yang lama," tutur Mendikbud Muhadjir dalam siaran persnya, (2/1).
Muhadjir mengatakan bahwa pembangunan ruang kelas darurat dan gedung permanen menjadi tanggung jawab Kementerian PUPR dengan anggaran dari BNPB, sedangkan Kemendikbud bertanggung jawab untuk menyediakan mebeler dan peralatan pembelajaran.
Dalam kunjungan ke Pidie Jaya, Mendikbud melihat langsung proses belajar mengajar di tenda-tenda darurat sekaligus memeriksa perkembangan pembangunan sekolah darurat.
Mendikbud disambut dengan gembira oleh guru dan siswa di sekolah-sekolah tersebut, walaupun mereka harus melaksanakan proses belajar mengajar di tenda-tenda darurat karena ruang-ruang kelas sementara masih dalam proses pembangunan oleh Kemen-PUPR.
Mendikbud juga mengharapkan bagi sekolah-sekolah yang rusak ringan agar betul-betul mengajak siswanya kembali ke sekolah.
"Karena itu penyembuhan trauma dan bimbingan psikososial penting dan akan terus dilakukan oleh Kemendikbud," katanya.
Sejauh ini sudah didirikan 170 tenda pada 68 titik lokasi sekolah. Sebanyak 158 ruang kelas sementara juga sedang dibangun di 28 titik lokasi sekolah yang rusak berat. "Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada guru dan siswa dengan semangat tinggi kembali ke sekolah walaupun dengan berbagai keterbatasan," kata Muhadjir.
Mendikbud mengunjungi dan berbicara dengan siswa SDN Jiem Jiem, SMPN 3 Bandar Baru, TK Al Hidayah, SDN Jalan Rata, SMK Kesehatan Putra Nanggroe, dan SMAN 1 Trienggadeng.
Hasil pemantauan tim Kemendikbud terkait kerusakan sarana dan prasarana pendidikan dan kebudayaan dilaporkan terdapat 65 sekolah yang mengalami kerusakan, terdiri dari 35 sekolah dasar (SD), 11 sekolah menengah pertama (SMP), 13 sekolah menengah atas (SMA), dan 6 sekolah menengah kejuruan (SMK).
Selain itu, terdapat juga 81 fasilitas pendidikan anak usia dini (PAUD) mengalami kerusakan sarana dan prasarana dengan tingkat kerusakan sedang dan berat.
Mendikbud memaparkan rencana pemenuhan kebutuhan bantuan usai gempa Aceh dengan total anggaran sekitar Rp 68,2 miliar, rinciannya pada tahun 2016 akan disalurkan sebesar Rp 25,8 miliar, dan tahun anggaran 2017 dialokasikan sebesar Rp 42,4 miliar.
Saat kunjungan tersebut, Mendikbud didampingi Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi, Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad, Direktur Pembinaan SD Wowon Wirdiyat, dan Direktur Pembinaan Pendidikan dan Layanan Khusus Renani Pantjastuti, Staf Khusus Mendikbud Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan Alpha Amirrachman, dan Staf Khusus Mendikbud Bidang Hubungan Antar Lembaga Fajar Riza Ul Haq.




