Kebisingan di Media Sosial dan Demokrasi yang Tengah Berkembang

Ada yang left dari grup, unfriend di media sosial, debat kusir di media sosial.

Kebisingan di Media Sosial dan Demokrasi yang Tengah Berkembang
Demokrasi digital (The Atlantic)

MONDAYREVIEW.COM - Pemilihan Presiden tahun 2014 membawa dinamika baru, tak hanya pada kancah politik, melainkan juga di area pertemanan dan keluarga. 2 pasang calon yang ada, seolah mampu membelah secara diametral kutub dukungan. Maka konflik pun terpetakan, diantaranya di media sosial. Ada yang left dari grup, unfriend di media sosial, debat kusir di media sosial merupakan sekelumit contoh aktual yang benar-benar terjadi.

Fenomena macam tadi ternyata berlaku juga di Amerika Serikat di pemilihan presiden edisi kekinian. Donald Trump dan Hillary Clinton memang benar-benar vis a vis terlihat perbedaannya.

Di konteks Indonesia, fenomena “ricuh” di media sosial masih belum bubar pasca pilpres 2014. Terkait sosok Ahok, dapat dilihat bagaimana dinamika pro dan kontra terjadi di media sosial.

Menyikapi hal tersebut sesungguhnya terdapat 2 hal yang bisa ditelusuri yakni tentang demokrasi digital dan pembelajaran berdemokrasi. Demokrasi digital, dimana setiap dari kita dapat mempengaruhi-dipengaruhi di media sosial. Ada beberapa kesamaan dengan prinsip demokrasi langsung di era Yunani kuno. Dimana tiap dari kita memiliki suara dan pendapat yang silakan diungkapkan. Maka tak mengherankan jika media sosial menjadi arena yang bising. Meski begitu itulah demokrasi, yang memberikan ruang dan kesempatan bagi “kebisingan” itu.

Terkait dengan pembelajaran demokrasi, seyogianya kita mampu menakar bahwa begitulah demokrasi. Pilihan boleh beda, namun tenun kehidupan berbangsa dan bernegara harus tetap utuh. Pilihan boleh beda, namun cara kita menyikapi perbedaan itu yang harus bijak bestari. Karena perbedaan merupakan salah satu keistimewaan demokrasi. Perbedaan pendapat di media sosial itulah yang merupakan dinamika dari demokrasi yang tengah berkembang di negeri ini.