Kacamata Kuda
Lakukan edukasi politik, minta maaflah secara terbuka kepada rakyat jika dalam kerja politik masih ada kekurangan dan kesalahan.
MONDAYREVIEW.COM - Dalam rubrik kartunnya di harian Kompas (29/1) Mice memberikan ilustrasi menarik mengenai seseorang yang menggunakan kacamata kuda. Kartun memang bisa jadi artikulasi yang simpel namun mengena mengenai kehidupan sosial. Dan apa yang digambarkan Mice begitu tepat untuk menggambarkan lanskap sosial yang tengah terjadi di negeri ini.
Bahwasanya jika tidak disikapi dengan bijaksana keterbelahan bisa benar-benar terus menganga di negeri ini. Pilpres 2014 yang hanya diisi oleh 2 kandidat memang cukup menimbulkan pertentangan luar biasa. Masing-masing pendukung terkadang begitu ekstrem dalam membela sehingga begitu membabibuta dalam membela dan menyerang pihak sebrang. Kacamata kuda seakan dipakai. Berhamburannya informasi yang terkadang tidak tepat dengan cepat “diternakkan” dengan asumsi menyanjung jagoannya atau menjatuhkan pihak lawan. Nalar dan kecerdasan literasi menjadi menumpul.
Sayangnya hingga kini “kondisi bawaan” dari pilpres 2014 masih tetap berlanjut. Masyarakat masih dengan kecerdasan literasi yang dipertanyakan. Situs-situs berita yang tendensius untuk menjatuhkan pihak sebrang pun masih digemari sebagai sumber rujukan.
Situasi kacamata kuda sesungguhnya membahayakan demokrasi dan kehidupan sosial kita. Kacamata kuda memungkinkan terjadinya diktator. Bagaimana para massa pendukung yang dengan setia dan gigih mendukung politikus andalannya tanpa syarat. Kultus individu terhadap sang politikus bisa terjadi.
Maka untuk mengikis kacamata kuda diperlukan 2 jalur. Dari sisi rakyat diperlukan kesadaran bahwa para politikus adalah manusia biasa yang bisa salah juga. Rakyat juga harus dengan cerkas membaca informasi. Jika memang informasi itu benar, sebagai kekurangan dari kerja politikus dengan besar hati harus diakui.
Jalur yang kedua dari sisi politikus. Politikus semestinya tidak meninabobokan rakyat dengan pemujaan terhadap dirinya. Lakukan edukasi politik, minta maaflah secara terbuka kepada rakyat jika dalam kerja politik masih ada kekurangan dan kesalahan. Dengan begitu sesungguhnya politikus telah menciptakan iklim demokrasi yang berbasiskan akal sehat.




