Jakarta Banjir Sejak Dulu Kala

Semenjak koloni pedagang Belanda hadir lewat Pelabuhan Sunda Kelapa, banjir dan nyamuk pembawa penyakit merupakan permasalahan yang kerap menyambangi kota ini.

Jakarta Banjir Sejak Dulu Kala
Jakarta kebanjiran

MONDAYREVIEW.COM – Jakarta lagi-lagi dikepung banjir. Beberapa titik di Jakarta memperlihatkan banjir yang melumpuhkan aktivitas keseharian. Jika menilik sejarah, episode Jakarta kebanjiran merupakan repetisi sejak dulu kala. Semenjak koloni pedagang Belanda hadir lewat Pelabuhan Sunda Kelapa, banjir dan nyamuk pembawa penyakit merupakan permasalahan yang kerap menyambangi kota ini.

Dari Zaman Kerajaan Tarumanegara-Pemerintah Hindia Belanda Kelimpungan dengan Banjir

Bahkan jika ditarik ke garis waktu lebih ke belakang, Jakarta kebanjiran telah terjadi sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Peristiwa itu terjadi 15 abad lalu dan terekam dalam Prasasti Tugu yang kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta.

Penduduk saat itu diperkirakan ratusan ribu jiwa dengan estimasi sang raja memotong seribu ekor sapi dalam upacara selamatan mengatasi banjir. Sejarawan mengkalkulasi satu ekor sapi dimakan 100 orang.

Dalam buku Batavia Kota Banjir yang ditulis sejarawan Alwi Shahab, banjir di Jakarta memusingkan 66 gubernur Jenderal, dari JP Coen sampai AWL Tjarda van Starkenborgh Stachoewer.

Seperti dilansir dari catatan Litbang Kompas, banjir besar pernah terjadi di era pendudukan Belanda yakni tahun 1872. Banjir besar gara-gara hujan turun dengan curah 286 milimeter, menyebabkan Ciliwung meluap, pintu air di depan lokasi yang sekarang menjadi masjid Istiqlal jebol. Kota Tua terendam, mulai dari kawasan Harmoni.

Letak Geografis dan Grand Design Menanggulangi Banjir

Faktanya Jakarta terletak di dataran rendah yang memungkinkan banjir menjelang. Seperti dikutip dari Buku Jakarta 2017 – Rencana Pembangunan Jangka Menengah, wilayah DKI Jakarta adalah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata hanya tujuh meter di atas permukaan laut. Bahkan, ketinggian 40 persen wilayah Jakarta adalah satu meter hingga 1,5 meter di bawah muka laut pasang.

Banjir selain dikarenakan lokasi geografis yang tak menguntungkan, juga bisa diperparah dengan perencanaan kota yang tidak dilaksanakan. Seperti diungkap sejarawan Alwi Shahab dalam Rencana Induk Jakarta 1965-1985 ruang terbuka hijau sebagai taman kota seharusnya 60 persen. Dulu, daerah Kebayoran Baru dan Menteng semasa Gubernur Ali Sadikin hanya diperuntukkan bagi perumahan.

Melacak lebih lampau lagi, pada tahun 1895 pemerintah Hindia Belanda disebut pernah merancang grand design untuk menanggulangi banjir di Batavia (nama Jakarta ketika itu). Belanda mafhum bahwa Batavia merupakan dataran rendah yang potensial terkena banjir, serta daerahnya yang berawa-rawa dan banyak terdapat situ (danau kecil). Grand design itu mencakup pembangunan menyeluruh dari daerah hulu di kawasan Puncak hingga hilir di daerah estuaria di utara Jakarta.

Lalu bagaimanakah cara menangani banjir di masa lampau? Seperti diungkapkan sejarawan Alwi Shahab, pada masa pemerintah kolonial Belanda, para lurah yang disebut wijkmeester atau bek ditugaskan agar betul-betul mengawasi kebersihan. Mereka yang ketahuan membuang sampah di sungai akan langsung dihukum. Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan perintah agar semua kali buatan dan kanal di dalam kota Batavia dibersihkan dari penduduk yang tinggal di bantarannya.

Begitulah sekelumit sejarah dari Jakarta yang banjir sejak dulu kala.