Goenawan Mohamad Klarifikasi soal Frankfurt Book Fair
'Bahwa sampai ada orang melapor hal ini, tanpa menelaah kejadiannya lebih dulu, membuat saya sedih dengan pilkada ini,' ungkap Goenawan Mohamad.
MONDAYREVIEW.COM – Anies Baswedan dilaporkan Direktur Government Against Corruption and Discrimination (GACD) Andor Situmorang ke KPK. Tuduhan dari Andar ke calon Gubernur DKI Jakarta tersebut yakni dugaan menyelewengkan dana setidaknya Rp 146 miliar untuk pameran buku yang digelar pada 13-18 Oktober 2015.
Klarifikasi dan pembelaan kemudian dilakukan oleh Ketua Komite Nasional untuk acara Frankfurt Book Fair, Goenawan Mohamad. Salah satu pendiri majalah Tempo tersebut menyatakan laporan tersebut salah sasaran.
"Saya adalah Ketua Komite Nasional untuk acara besar selama 2014-2015 di Frankfurt, Leipzig, Bologna dan London itu. Maka jika ada yang perlu dilaporkan ke KPK, itu adalah saya, bukan Anies Baswedan," Goenawan menulis di akun Facebook miliknya, Jumat (10/3) sekitar pukul 16.00 WIB.
Goenawan Mohamad yang kerap dipanggil GM ini menyatakan tuduhan yang dialamatkan kepada Anies Baswedan tidak adil.
"Bukan karena saya mau pasang badan buat Anies, yang bukan pilihan saya untuk pilkada kali ini. Tapi karena tak adil bagi dia," Goenawan melanjutkan penjelasannya. Goenawan Mohamad sendiri seperti terpantau dalam pernyataan-pernyataannya di media sosial secara benderang menyatakan dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Penulis tetap di kolom Catatan Pinggir majalah Tempo ini menjelaskan keputusan Indonesia menjadi tamu kehormatan ditandatangani bukan oleh Anies Baswedan melainkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya, Mohammd Nuh.
"Juga besarnya anggaran disiapkan dan diajukan di masa Moh. Nuh. Anies melanjutkan agenda ini, dan saya senang bekerja bersama dia: saya memimpin tim profesional, dia aparat Kementerian."
GM sendiri memandang laporan ke Anies Baswedan terkait dengan pilkada DKI Jakarta.
"Bahwa sampai ada orang melapor hal ini, tanpa menelaah kejadiannya lebih dulu, membuat saya sedih dengan pilkada ini. Siasat fitnah dan kabar bohong yang dulu diarahkan ke Capres Jokowi kini ditujukan ke Anies, dan sebelumnya ke Ahok, yang karena fitnah harus diproses di pengadilan," ungkap Goenawan.
Di akhir tulisannya jurnalis senior ini menyatakan praktik kebencian yang berkepanjangan akan merusak proses demokrasi di Indonesia.
"Jika fitnah dan kebencian diteruskan, apa lagi dengan mengobarkan sentimen agama dan etnis, sehabis ini kehidupan politik macam apa yang akan menyertai kita? Luka hati. Perpanjangan saling curiga. Dan kepercayaan yang rusak berat kepada proses demokrasi," imbuh Goenawan Mohamad.




