Diskusi, Debat, dan Demokrasi Kita
Meredupnya demokrasi bisa ditelusuri denyutnya dari konteks diskusi dan debat.
MONDAYREVIEW.COM - Apa istimewanya demokrasi dibandingkan sistem otoriter? Salah satunya adalah dimungkinkannya ruang diskusi dan debat. Diskusi dan debat memungkinkan terjadinya silang pendapat dan perspektif yang berbeda.
Berbeda halnya dengan sistem otoriter, dimana kebenaran dicangkokkan dari satu arah. Kebenaran diarahkan dan didesain oleh penguasa. Kalaupun ada diskusi dan debat yang terjadi, maka itu bisa jadi dibatasi ruang geraknya dan dimarginalisasikan. Maka tak mengherankan jika di sistem otoriter terdapat pembredelan, pelarangan diskusi tertentu, penyaringan informasi. Akibat dari hal ini adalah matinya ruang gerak oposisi dan nalar berpikir.
Apakah mungkin sistem otoriter bercokol di Indonesia? Salah satu parameter melihatnya yakni kebebasan untuk berdiskusi dan berdebat. Jangan lupakan terdapat politik stigma pula terhadap mereka yang berbeda pendapat. Di masa Orde Baru, dikenal istilah ekstrem kanan dan ekstrem kiri untuk mengkategorisasi kelompok Islam dan sosialis. Pihak oposisi pun bisa “dicemplungkan” dalam kategori ekstrem kanan dan ekstrem kiri.
Diskusi dan debat sesungguhnya dibutuhkan dalam check and balance kekuasaan. Bayangkan kiranya tanpa tukar pendapat, pikiran, maka goda kekuasaan dapat menggelincirkan.
Meredupnya demokrasi bisa ditelusuri denyutnya dari konteks diskusi dan debat. Jika diskusi dan debat telah direduksi dengan sistematis maka sesungguhnya itu merupakan sinyalemen demokrasi sedang dituntun menuju kematiannya dan kala otoriter siap menjelang.




