Demonstrasi Kita
Bagi penguasa untuk secara arif menghadapi keluhan dari rakyatnya.
MONDAYREVIEW.COM - Aksi demonstrasi kembali dilakukan hari ini (16/1). Habib Rizieq Shihab menggalang ribuan anggota Front Pembela Islam (FPI) berdemo di Mabes Polri (16/1). Arus pemberitaan ramai diungkapkan. Mulai dari persiapan pengamanan, pesan yang disampaikan Habib Rizieq Shihab, dan sebagainya.
Demonstrasi sendiri kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang salah. Demonstrasi dianggap gaduh, mengganggu ketertiban umum. Padahal sesungguhnya demonstrasi merupakan hak dalam kehidupan demokrasi. Demonstrasi normalnya dilakukan manakala suara, pendapat, kurang diaspirasi baik oleh eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ibaratnya aliran darah, demonstrasi dilakukan manakala terjadi kemampetan dalam sistem politik.
Bagi penguasa, demonstrasi ditakuti karena pengerahan massa yang signifikan turun ke jalan. Sudah begitu banyak kekuasaan yang tumbang dengan salah satu episodenya adalah demonstrasi yang terjadi secara masif. Maka penguasa pun bisa jadi menggunakan armada militernya untuk mengganyang demonstran. Penguasa juga berkompromi dengan para stakeholder sosial, politik, ekonomi dalam rangka mencegah demonstrasi menggelombang.
Demonstrasi hendaknya dimaknai secara proporsional sebagai suara rakyat. Bagi penguasa untuk secara arif menghadapi keluhan dari rakyatnya. Bagi pelaku demonstrasi, agar menjadikan demo dengan tujuan yang tepat. Jangan jadikan demonstrasi sebagai kartu politik untuk memuluskan kepentingan pragmatis dan sempit.




