Dari Peci Sukarno Hingga Peci Anies-Sandiaga
Sukarno menyebut peci sebagai 'ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.'
MONDAYREVIEW.COM – Sukarno ketika itu masihlah seorang pemuda berusia 20 tahun. Sebelum masuk ke ruang rapat Jong Java di Surabaya Juni 1921, Sukarno berdebat dengan dirinya sendiri.
“Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?”
“Aku seorang pemimpin.”
“Kalau begitu, buktikanlah,” yakin Sukarno kepada dirinya sendiri. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”
Di ruang rapat Jong Java, kaum intelegensia ternganga melihat tampilan Sukarno. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah.
Sukarno pun memecah hening dengan berbicara:”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”
Itulah awal semula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci, seperti disarikan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Seperti dilansir Historia, Sukarno menyebut peci sebagai “ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.” Sukarno mengkombinasikan peci dengan jas dan dasi. Ini menurut Sukarno untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (terjajah) dan Belanda (penjajah).

Begitulah sekelumit kisah Sukarno dengan peci sebagai simbol nasionalisme. Sementara itu kisah peci Anies Baswedan-Sandiaga Uno bisa ditelisik dalam politik asosiasi. Dari exit poll Indikator Politik Indonesia, dari 100 persen pemilih beragama Islam, Agus-Sylvi menangguk dukungan 20 persen. Pasangan Ahok-Djarot mendapatkan 33 persen, pasangan Anies-Sandiaga mendapatkan suara terbanyak hingga 46 persen.
Dari sekitar 7 juta pemilih Jakarta, pemilih beragama Islam mencapai 85 persen. Sementara itu seperti dilansir majalah Tempo di kalangan pemilih nonmuslim, Ahok-Djarot mendapatkan dukungan 97 persen, sisanya 3 persen ke pasangan Anies-Sandiaga.
Dalam strategi kampanyenya, pihak Anies dan Sandiaga pun mengganti foto profilnya untuk dicetak di surat suara dengan foto mereka berpeci. Slogan “Coblos Pecinya’ pun didengungkan oleh pasangan nomor urut 3 ini menjelang Pilkada DKI Jakarta pada 15 Februari 2017.

Apakah taktik strategi Anies-Sandiaga ini merupakan politisasi SARA? Menurut hemat saya tidak. Hal ini lebih pas ditempatkan sebagai politik asosiasi dan berusaha menggaet suara pemilih.
Sedangkan suara kalangan nonmuslim kemungkinan akan tetap ajek kepada Ahok-Djarot.
“Di putaran kedua, dukungan pemilih nonmuslim mungkin tak berubah,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.
Apa yang dilakukan oleh pasangan Anies-Sandiaga bukan berarti kemunduran bagi nasionalisme. Islam dan nasionalisme sendiri bukanlah sesuatu yang bertentangan, melainkan sesuatu kesatuan yang utuh. Dan Sukarno pun menyokong politik asosiasi seperti diungkapnya bahwa jika ingin suara Islam terdengar, silakan menguasai parlemen.




