Buku dan Para Politikus

Sudah saatnya para politikus untuk mengutarakan visi-misi, ide-idenya via tulisan.

Buku dan Para Politikus
Sukarno (Revius)

MONDAYREVIEW.COM - Ada banyak cara bagi para politikus untuk merangkul rakyat. Salah satu caranya ialah melalui buku. Namun, ada perbedaan yang signifikan antara politikus era lampau dengan era sekarang. Politikus di masa Orde Lama merupakan mereka yang telaten menulis. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Tan Malaka, merupakan contoh dari para politikus era lawas yang piawai mengartikulasikan gagasan melalui tulisan.

Bagaimana dengan para politikus di era kekinian? Apakah mereka menulis karyanya sendiri atau menggunakan ghost writer? Apakah sekadar menggunakan penulis profesional untuk menggaungkan namanya?

Tentu latar belakang pola pendidikan turut mempengaruhi. Indonesia di era awal kemerdekaannya. Negeri ini mendapatkan blessing in disquise dari edukasi di masa kolonial Belanda yang mengharuskan siswanya rajin membaca dan menulis. Maka dari hulu tersebut bermuara, para politikus di awal negeri ini dideklarasikan begitu bernas mengungkapkan narasi ide dalam tulisan.

Lalu apa yang harus dilakukan bagi para politikus di era kekinian dan mendatang? Para politikus hendaknya menggiatkan diri dalam membaca dan menulis. Sudah saatnya para politikus untuk mengutarakan visi-misi, ide-idenya via tulisan. Politikus juga hendaknya menjadi seorang kutu buku yang getol membaca. Maka dengan narasi seperti itu wajah perpolitikan Indonesia bisa menjadi lebih bernas dan substansial. Bukan sekadar riuh rendah dari kontroversi tanpa ujung yang dirajut tiap kalinya.