Budaya Baca yang Minim Sebabkan Jurnal Ilmiah Kerontang

Taufiq Ismail juga pernah menyindir bangsa Indonesia sebagai ‘bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis’.

Budaya Baca yang Minim Sebabkan Jurnal Ilmiah Kerontang
Budaya menulis (University of St.Thomas)

MONDAYREVIEW.COM – Budayawan Taufiq Ismail pernah menyindir generasi Indonesia adalah generasi 0 buku. Hal itu tak terlepas dari tiadanya kewajiban membaca buku ketika menempuh pendidikan. Alhasil para pelajar Indonesia pun dalam setahun bisa jadi tidak menamatkan membaca 1 buku pun.

Taufiq Ismail juga pernah menyindir bangsa Indonesia sebagai ‘bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis’. Rabun membaca dikarenakan kebiasaan membaca tidak menjadi keseharian. Akibat dari kealpaan membaca yakni pincang menulis. Kealpaan membaca juga dapat membiakkan plagiarisme. Tentu untuk menghasilkan tulisan yang baik diperlukan asupan bacaan yang banyak serta berkualitas. Maka bagaimana bisa menulis, jika membaca saja masih begitu minim?

Tak mengherankan jika ditarik dalam budaya ilmiah di universitas negeri ini masih kedodoran. Kebiasaan membaca yang belum terbentuk dalam masyarakat membuat mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi di Indonesia juga minim membaca jurnal dan membuat karya tulis ilmiah. Menanggapi hal tersebit Rektor Universitas Negeri Padang menyatakan budaya baca di kalangan mahasiswa dan dosen masih perlu dirangsang.

“Kebutuhan jurnal untuk membuat mahasiswa dan dosen memahami perkembangan baru di bidang ilmunya. Kami biasakan mencari literatur tulisan dari jurnal,” ujar Ganefri dalam acara bincang-bincang di Minang Book Fair di Padang, Sumatera Barat.