AHY Setelah Pilkada DKI Jakarta dan Pilpres 2019
Akankah AHY maju di Pilpres 2019?
MONDAYREVIEW.COM - Agus Harimurti Yudhoyono menjadi sosok yang menarik perhatian ketika memutuskan maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Ia memutuskan pensiun dari karier cemerlangnya di militer dan mencoba medan pengabdian baru melalui jalur politik.
Keputusan anak sulung SBY ini sempat dipertanyakan oleh publik. Bagaimana Agus Harimurti Yudhoyono yang dikenal dengan singkatan AHY bertarung dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta yang ketat. Dari hasil quick count beberapa lembaga survei menunjukkan pasangan AHY-Sylviana Murni berada pada capaian angka 17%.
Agus sendiri telah menyampaikan pidato terkait hasil Pilkada DKI Jakarta.
“Secara kesatria dan lapang dada saya menerima kekalahan di Pilkada DKI Jakarta,” kata Agus di Posko Pemenangan Agus-Sylvi, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (15/2).
Akan kemanakah Agus Harimurti Yudhoyono setelah gagal di Pilkada DKI Jakarta. Menarik adanya apa yang diungkap Abdul Hamid di laman Facebook-nya pada 7 Oktober 2016:
“Agus gak disiapkan jadi Gubernur DKI. Ia disiapkan jadi Ketum Partai Demokrat, karena SBY gak percaya siapapun, termasuk ke Ibas. Sebagai Ketum PD kelak, Agus punya wildcard buat jadi Capres. Pilgub DKI hanya sesi latihan saja, memberi pengalaman realitas politik dosis tinggi termasuk pengalaman kalah pada Mayor Agus,” tulis Abdul Hamid dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Jika menilik pernyataan tersebut dan dibedah satu per satu maka analisanya sebagai berikut. Susilo Bambang Yudhoyono sendiri menjabat sebagai Ketua Umum Demokrat setelah partai bintang Mercy ini dihantam berbagai isu korupsi yang menimpa kader-kadernya, friksi di internal partai. Sementara itu pemilu 2014 kian dekat, alhasil pada KLB Partai Demokrat di Bali tahun 2013, SBY terpilih menjadi Ketua Umum. Terpilihnya SBY merekatkan kembali internal Partai Demokrat dan mencegah tsunami anjloknya suara Partai Demokrat pada pemilu 2014.
Maka menyiapkan Agus sebagai suksesor SBY merupakan pilihan yang logis. Agus selain anak biologis, juga dipercaya memiliki komptensi dan kharisma sebagai pemimpin Partai Demokrat.
Ada pun pemilihan presiden tahun 2019 masih terbuka kandidat-kandidat yang bertarung. Satu slot diperkirakan akan kembali diisi Joko Widodo. Sementara itu Partai Demokrat bisa jadi memajukan AHY yang telah memiliki elektabilitas secara nasional. AHY sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, sorotan pemberitaan begitu terekspose secara nasional. Maka AHY telah memiliki modal awal elektabilitas dan bisa menambah elektabilitasnya hingga tahun 2019.
Skenario AHY sebagai presiden diantaranya bisa terdeteksi ketika para pendukung Agus-Sylvi meneriakkan “Agus presiden! Agus presiden!” menjelang konferensi pers di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat pada Rabu (15/2).
Sementara itu pengalaman kalah di ranah politik merupakan pelajaran berharga. SBY sendiri pernah mengalaminya ketika maju sebagai calon Wakil Presiden di MPR. Ketika itu Hamzah Haz berhasil memenangkan pemilihan sebagai Wakil Presiden dan SBY merasakan pengalaman kekalahan.
Pengalaman kekalahan itu berhasil dipelajari SBY dan ia pun mampu menjadi pemenang di pemilihan presiden tahun 2004 yang dipilih langsung oleh rakyat. Jadi akankah AHY mengikuti jejak SBY? Dengan mengubah pengalaman kekalahan menjadi kisah manis di tahun 2019. Waktu akan menjawabnya.
Dalam ranah militer, seseorang sekali tertembak bisa langsung mati. Dalam ranah politik, kamu tidak akan pernah mati. Dan waktu yang akan menjawab juga ketika AHY menjadi seorang politikus di ranah politik – dimana masih ada momentum lainnya untuk menjadi pemenang.




