Ahok yang Nampaknya Belum Habis di Jalur Politik
Ahok diperkirakan akan berada dalam domain rezim berkuasa sebagai sosok yang turut menopang elektabilitas pemerintah.
MONDAYREVIEW.COM – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlihat tidak begitu kecewa-kecewa amat dengan “kekalahan” di Pilkada DKI Jakarta. Diberikan tanda kutip “kekalahan” dikarenakan secara resmi harus menunggu dari KPUD DKI Jakarta, sementara itu dari hasil hitung cepat pasangan Ahok-Djarot berada di bawah perolehan suara Anies-Sandi.
Sebagai sosok dengan modal elektabilitas yang telah terbentuk, plus barisan pendukungnya maka Ahok dipandang masih belum habis dan punya prospek menjadi apa pun di masa mendatang. Ahok pun masih menjabat hingga Oktober 2017 sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ahok masih memiliki jabatan formal dimana kutipannya akan diburu para juru warta dan warga kebanyakan.
Ahok pun masih menjalin kedekatan dengan rezim berkuasa dan partai-partai politik. Kedekatan dengan Presiden Joko Widodo diantaranya membuat sejumlah rakyat berimajinasi Ahok menjadi menteri di Kabinet Kerja, menjadi Jaksa Agung ataupun sebagai Pimpinan KPK. Imajinasi itu bukan tanpa dasar, dikarenakan Jokowi dalam sejumlah kesempatan memang terlihat akrab dengan Ahok. Ahok diperkirakan akan berada dalam domain rezim berkuasa sebagai sosok yang turut menopang elektabilitas pemerintah.
Dalam dunia militer, Anda akan mati sekali. Sedangkan dalam ranah politik, Anda bisa terus hidup sekalipun kekalahan kerap mengiringi dalam perjalanan. Megawati Soekarnoputri pernah merasakan 10 tahun di barisan oposisi, sebelum kembali berada di barisan penguasa sekarang. Anies Baswedan pernah “mati” dengan didepak karena reshuffle Kabinet Kerja. Namun, Anies memiliki basis elektabilitas yang baik di publik. Basis itulah yang menjadi salah satu alasan Gerindra dan PKS mengusung mantan Mendikbud tersebut sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
Beranjak dari dua contoh di atas, Ahok pun masih memiliki peluang menjadi sosok berkuasa di masa mendatang. Ia memang terancam dengan hukuman pidana akibat kasus penistaan agama. Namun, jika berhasil lolos dari dakwaan, ataupun masuk penjara hanya dalam durasi singkat, maka Ahok bisa jadi mengkonversi kasus penistaan agama menjadi keuntungan elektabilitasnya di masa mendatang.




