Ahok dan Politisasi SARA Jabat Tangan dengan Raja Salman

Sedangkan publik DKI Jakarta juga akan terpengaruh dengan foto yang konon berharga seribu kata.

Ahok dan Politisasi SARA Jabat Tangan dengan Raja Salman
Raja Salman bersalaman dengan Ahok

MONDAYREVIEW.COM – Dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta, sosok Basuki Tjahaja Purnama kerap kali mengeluhkan politisasi SARA yang menyerangnya. Ia merasa dirinya menjadi korban dari politisasi SARA.

Kasus penistaan agama serta turun ke jalannya umat Islam diyakini menggerus elektabilitas Ahok. Seperti dilansir Saiful Mujani Research & Consulting pada bulan Desember 2016, elektabilitas Ahok anjlok hingga hanya mencapai 28,8 persen.

Sementara itu dalam acara pengukuhan dan pelantikan Ketua Umum beserta jajaran pengurus DPP Partai Hanura di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Presiden Joko Widodo menyatakan politisasi SARA sebaiknya dihindari.

“Seperti kita lihat saat ini, ada politisasi SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), ini harus kita ingatkan, hindari. Banyaknya kebencian, fitnah, saling memaki, menghujat yang kalau kita teruskan bisa menjurus pada pecah belah bangsa kita,” kata Jokowi pada Rabu (22/2).

Namun bagaimanakah kiranya jika politisasi SARA justru digunakan oleh Ahok? Ahok melakukan salam jabat tangan dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz al Saud di Bandara Halim Perdanakusuma siang ini (1/3).

Jika menilik peraturan hukum, Ahok bisa berkelit dengan aturan yakni Peraturan Pemerintah RI Nomor 62 Tahun 1990 tentang ketentuan Keprotokolan Mengenai Tata Tempat, Tata Upacara dan Tata Penghormatan, khususnya di pasal 14. Di pasal 14 ayat 2 dijelaskan ‘Tata tempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan dengan urutan sebagai berikut: 1.Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I’.

Preferensi Politik Jokowi dan Seribu Kata

Dalam hal ini tendensi dari Presiden Joko Widodo pun terlihat berpihak kepada Ahok. Mulai dari pengangkatan kembali Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, semobil ketika melakukan kunjungan ke mass rapid transit (MRT). Jokowi dalam hal ini semestinya memahami sensitifitas keadaan dan kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Jokowi harusnya bersikap netral dan tidak memperlihatkan preferensi politiknya.

Hasil gambar untuk jokowi-ahok mrt

Maka foto salaman antara Raja Salman dengan Ahok pun tentu bermuatan politis. Ahok tak segan membagi fotonya di akun Twitter miliknya. Para pendukungnya akan meng-echo-kan dan memberi narasi bagi foto tersebut. Sedangkan publik DKI Jakarta juga akan terpengaruh dengan foto yang konon berharga seribu kata.