ABS

Reformasi birokrasi memerlukan reformasi pemikiran dimana para birokrat diharapkan menjadikan rakyat sebagai parameter utama.

ABS
OK

MONDAYREVIEW.COM - Frase “ABS” kembali mengemuka di area publik. Frase “ABS” timbul di debat pilkada kedua DKI Jakarta. Debat kedua Pilkada DKI Jakarta mengangkat tema mengenai reformasi birokrasi, pelayanan publik dan penataan tata ruang kota.

Berbicara mengenai reformasi birokrasi, harus dipahami bahwa yang seharusnya dibuat senang adalah rakyat. Pelayanan birokrasi yang mudah, simpel, dan efisien, merupakan sesuatu yang diharapkan rakyat kebanyakan.

Sedangkan ABS (Asal Bapak Senang) menjadikan episentrum kepuasan ada di atasan. Maka yang dilakukan adalah membuat laporan yang menyenangkan atasan dan bekerja baru terlihat ketika atasan mensupervisi. ABS memungkinkan terjadinya manipulasi data. Birokrat pemerintah pun lebih khawatir terhadap atasan dan berusaha untuk menyenangkan atasannya dengan berbagai cara. Birokrat menjadi takut-takut terhadap atasan, baik itu karena ancaman pemecatan, pemindahan posisi, ataupun kinerja yang dinilai tidak kinclong.

Reformasi birokrasi merupakan tugas besar yang memerlukan kesungguhan. Diantaranya dengan membuat sistem yang transparan, akuntabel, dan berbasis meritokrasi. Di samping itu reformasi birokrasi memerlukan reformasi pemikiran dimana para birokrat diharapkan menjadikan rakyat sebagai parameter utama keberhasilan dalam bekerja, bukan dengan mengedepankan Asal Bapak Senang (ABS).